Pasrah

Foto oleh Jakub Novacek dari Pexels

Suatu waktu, jam berhenti. Berhenti bukan karena baterainya habis atau mesinnya rusak. Berhenti karena semua aktivitas hari ini sudah selesai, seorang manusia sudah merebahkan diri hendak tidur. 

Dia merebah bukan karena pengen tidur sih sebetulnya. Semata memang sudah selesai saja apa yang harus dilakukan hari itu,

tidak tau lagi harus apa, 

dan malam diyakini sebagai waktunya untuk tidur menutup mata pengantar hari esok,

meskipun tak ada kantuk sedikitpun menyergap, rasa-rasanya tidur juga tidak sedang dibutuhkan.

Rutinitas!


Waktu pun berhenti ketika semua orang tengah berhenti.. Diapun dihentikan. Maka saatnya pikiran dan kesadaran yang selama beraktivitas tak disadarinya, disadari. Semua tanda tanya yang sempat terhenti kini kembali menyeruak berputar-putar, seperti nyamuk nakal yang setia mengitari telinga. Sungguh mengganggu dan tak sudi diusir. 

Maka dia hanya mengubah posisi, rebah ke kiri, rebah ke kanan. Tarik selimut, lepas selimut. Sampai bantal diletakkan di atas, bukan lagi di bawah kepala. Lalu dikembalikan lagi. Tutup mata, buka mata. Susahnya untuk tidur saja. Hah, tak taulah bagaimana tidur kalau memang tidur itu diharuskan. 

Tak tertolak, dia pun sepakat bahwa deraan gelisah dan impian yang tertahan tidak sudi dikurung terus. Maka dia rela pula tak lagi menangkis yang sudah semestinya dan siap untuk merasa dan menanggung semua akibat dari segala kegelisahan yang dia tumpuk-tumpuk itu. 


Pasrah, 

ia pun menitikkan air mata satu-satu. 

Pasrah, 

ia merasa setitik bahagia juga ada kok. 

Pasrah, 

ia menyadari pula ada kerinduan yang dulu pernah dia punya. 

Pasrah, 

dia sadar tidak bisa apa-apa untuk mendapatkan yang dia inginkan, 

untuk menjauhkan yang dia tidak inginkan. 


Berserah, 

dia menyebut nama Tuhan yang diyakininya. 

Dia pun menutup mata tak berdaya. Istirahat, dia perlu dan berhak menerima momen rehat atas pikiran serta jiwa melebihi dari pada raganya. 

.

Waktu pun kembali berdetak selagi otak dan segala organ yang diciptakan Tuhan untuknya sedang mengatur ulang memori dan kondisi yang ada, 

untuk menyegarkannya di esok hari membuka mata.


_____

Rekomendasi pengalaman audio:
Laila - Monita Tahalea
Loneliness and Decibels - Sagas Midair







Post a Comment

0 Comments